Kepalsuan Amanat Agung
Sebenarnya Kitab Matius berakhir pada 28:15 yang
berbunyi:
“Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti
yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini
tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.”
Kalimat “cerita ini tersiar di antara orang Yahudi
sampai sekarang ini” menunjukkan dan merupakan
penutup Kitab Matius yang menjadi cerita yang
sudah lama terjadi. Karena Gereja ingin menambah
doktrinnya, mereka tanpa malu menambah ayat-
ayat palsu yang termuat dalam Matius 28:16-20
tersebut, walaupun terasa janggal bagi
pembacanya.
Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah
Nobel tahun 1959, dalam bukunya The Original New
Testament, mengatakan sebagai berikut:
“This (Matthew 28:15) would appear to be the end
of the Gospel (of Matthew). What follows (Matthew
28:16-20) from the nature of what is said, would
then be a latter addition”
“Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup
Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat
selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan
isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru
ditambahkan kemudian.”
Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian Baru,
Universitas Harvard, dalam bukunya The Five
Gospels, mengomentari ayat-ayat tambahan ini
sebagai berikut:
“The great commission in Matthew 28:18-20 have
been created by the individual evangelist… reflect
the evangelist idea of launching a world mission of
the church. Jesus probably had no idea of launching
a world mission and certainly was not the institution
builder. (It is) not reflect direct instruction from
Jesus.”
“Perintah utama dalam Matius 28:18-20… diciptakan
oleh para penginjil… memperlihatkan ide untuk
menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia.
Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide untuk
mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia dan
(Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini
(agama Kristen). (Ayat ini) tidak menggambarkan
perintah yang diucapkan Yesus.”
Berdasar kepada khabar burung..
kepercayaan penulisan Alkitab berdasarkan atas
inspirasi dari Roh Kudus ini dibantah sendiri oleh
penulis Injil Lukas yang berbunyi:
“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha
menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa
yang telah terjadi di antara kita, semula adalah
saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah
aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan
seksama dari asal mulanya, aku mengambil
keputusan untuk membukukannya dengan teratur
bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa
segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh
benar.” (Lukas 1:1-4)
Pada ayat ini disebutkan, Lukas menulis kitab ini
berdasarkan atas cerita yang telah didengarnya dari
orang lain, bukan berdasarkan atas inspirasi dari
Roh Kudus.


